Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2009

Batsyeba


Apa istimewanya wanita bernama Batsyeba, sehingga namanya ada di jajaran ibu moyang Yesus Kristus?

Maria, ibu Yesus, adalah keturunan Daud dengan Batsyeba istri Uria yang memperanakan Natan dst (Lukas 3:31)

Yusuf ayah Yesus, adalah keturunan Daud dengan Batsyeba istri Uria yang memperanakan Salomo yang adalah Raja Israel yang terkenal karena hikmatnya (Matius 1:6)

Yesus anak Daud dan Batsyeba, bukan dari Abigail istri Daud yang sangat bijak, bukan dari Maaka istri Daud yang juga anak raja? Mengapa Allah memilih seorang wanita yang melakukan pelanggaran untuk menjadi salah satu ibu moyang Yesus? Apa istimewa dari Batsyeba?


Batsyeba adalah wanita biasa:

Selama ini Batsyeba lebih dikenal sebagai wanita penyebab Raja Daud seorang yang di perkenan Allah, menjadi berdosa,

Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.” Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.(2Sam 11:2-4)

Daud bangun dan berjalan di atas sotoh, sotoh adalah bangunan di bagian atas rumah (lihat http://alkitab.sabda.org/resource.php?res=almanac&topic=1095 ) Karena sotoh terletak di bagian rumah paling atas dan istana pastilah lebih tinggi dan paling tinggi diantara rumah-rumah pada umumnya.

Pada waktu itu Batsyeba sedang mandi, apakah Betsyeba sengaja, mandi di tempat terbuka sehingga bisa dilihat Raja dari istana? apakah Batsyeba sengaja menge-pas-kan waktu sore-sore supaya pas dengan waktunya Raja berjalan-jalan di Sotoh? apakah Batsyeba sengaja melakukan gerakan-gerakan erotis saat mandi supaya Raja tergoda? Mungkin seperti itulah yang sering kita tafsir mengenai Batsyeba.

Siapakah Batsyeba? Batsyeba adalah istri Uria kepala pasukan perang Israel, anak dari Eliam pahlawan perang Daud, dan cucu dari Ahitofel penasihat Raja. Mungkin karena istri, anak, dan cucu orang-orang terpandang di istana sehingga rumahnya dekat dengan istana.

Kebiasaan mandi perempuan Israel, di sungai atau di sumur, mestinya mereka melakukannya bila sore hari menjelang gelap supaya tidak dilihat orang.

Nah di alkitab tidak disebutkan Betsyeba mandi di tempat umum, kemungkinan di rumahnya mempunyai sumur pribadi, di situlah dia mandi, bila Batsyeba mandi sore-sore di rumahnya sendiri apakah aneh, apakah itu yang disebut sengaja nge-pas-kan waktu untuk di “lihat” Raja dari atas? apakah dia tahu bahwa Raja akan jalan-jalan di sotoh, bukankah waktu itu adalah musim perang, dimana semua Raja sedang pergi berperang..

Juga beranikah dia mempertaruhkan reputasi ayahnya, kakeknya juga nyawanya untuk berani menggoda Sang Raja? karena dia tahu mati adalah hukumnya (ul 22:22)

Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga.(ul 22:22)

Batsyeba adalah wanita biasa yang di beri anugerah elok rupanya.


Batsyeba adalah istri yang baik

Ketika Daud menyuruh orang memanggilnya, dan dia datang menghadap Raja, lalu Daud tidur dengan dia.

Mengapa Batsyeba mau datang kepada Daud? ya karena memang tidak bisa menolak panggilan Raja yang berdaulat?

Mengapa Batsyeba tidak menolak untuk ditiduri Daud? ya karena memang tidak bisa perintah Raja yang berkuasa?

Apakah ketika mulut tidak bisa berkata tidak berarti mau?

Apakah ketika diam berarti suka?

Bila Batsyeba suka melakukannya, mengapa Batsyeba pulang ke rumah, dan tidak meminta pertanggung-jawaban dari Raja Daud? Bukankah dengan pulang ke rumah berarti semua beban ada pada Batsyeba, dan Raja akan lepas dari akibat-akibatnya?

Sungguh sebagai seorang istri Batsyeba merasakan penderitaan luar biasa akibat perbuatan Raja, bukan hanya berdosa kepada Tuhan, juga rasa salah dan sesal yang luar biasa terhadap suaminya yang sedang mengadu nyawa untuk Negara, perasaan istri yang tak berdaya ..

Ketika mendapati dirinya hamil, Batsyeba memilih memberitahukan kepada Raja untuk mempertimbangkannya, ya pada waktu itu semua orang Israel akan menghadap Raja untuk mengadili perkara-perkara yang mereka hadapi (2 sam 15:6). Batsyeba tidak memberitahukan kepada suaminya supaya tidak mengganggu konsentrasi di medan perang. Batsyeba yang tidak meninggalkan suaminya, Batsyeba diam, dengan diamnya dia tidak mencemarkan suaminya, juga tidak mempermalukan Raja,.. Ya Betsyeba adalah istri yang baik dan istri yang sabar menderita, semua perkara dia coba tanggung sendiri, hingga ketika di puncak kekuatannya lah dia baru mengajukan kepada Raja untuk menimbang perkaranya.

Apa yang dilakukan Raja Daud, yang disebut orang yang berkenan kepada Tuhan, bukannya mengambil tanggung-jawab, tetapi malah bersembunyi dan berusaha menutupi perbuatannya dengan berusaha memanipulasi keadaan, dengan memanggil Uria suami Batsyeba dari medan pertempuran yang belum selesai untuk menghadap Raja. Meninggalkan medan perang dan pasukan-nya untuk menghadap Raja, hanya untuk mendengar perintah Raja untuk pulang ke rumah, ya suatu perintah yang tidak dapat diterima akal sehatnya. Semua tenaga dan pikiran sedang tercurah bagaimana menghadapi lawan dan bagaimana menyusun strategi bersama pasukan dan Yoab, ya pikiran masih dipenuhi bagaimana Yoab harus segera merubah strategi perangnya karena ada satu posisi yang lobang karena ditinggalkannya.. dengan pikiran masih berkecamuk.. Raja memintanya pulang ke rumah untuk bertemu istrinya, sungguh suatu permintaan yang aneh dan tidak selayaknya.. karena seorang prajurit perang haruslah menjaga diri supaya tetap tahir, juga menjaga diri terhadap perempuan. (lihat http://alkitab.sabda.org/resource.php?res=almanac&topic=638

Mengapa Daud meminta Uria pulang ke rumah adalah supaya Uria bisa bersama Batsyeba, dan itu akan menutupi kehamilan Batsyeba akibat perbuatannya, sehingga Daud bisa lepas dari tuduhan dan tanggungjawabnya.

Ketika Uria menolak pulang, maka Daud merencanakan kematian Uria dengan meminta Yoab mengirim Uria di posisi yang paling berbahaya.

Batsyeba tetap diam, tiada keluhan, tiada air mata, semua rasa dan derita dia tanggung sendirian, dalam diamnya nyata kebijakannya… hingga ketika di beritahukan tentang kematian Uria, air mata yang selama ini tertahan, mengalir bersama ratapannya, karena suaminya, suami yang dikasihinya, suami yang disakitinya, suami yang meninggalkannya tanpa sempat memberi waktu kepadanya untuk memberitahukan betapa sesal dan sayangnya dia kepada sang suami.


Bersambung

Batsyeba adalah istri yang cerdas

Batsyeba adalah ibu yang bijak

Advertisements

Read Full Post »

Batsyeba

Kemolekan adalah bohong
Kecantikan adalah sia-sia

Tubuh indah dan wajah cantik adalah dambaan setiap wanita, ya.. aku menikmatinya.. dulu..   sekarang nikmat itu menjadi laknat..

Dia yang punya negara, dia yang punya bala tentara, dia yang punya kuasa, dia yang punya segalanya ya dialah Raja.. rakyat rela memberi nyawanya untuk sang raja yang berkuasa, demikian juga suamiku memberi diri untuk menjadi pasukannya, pula ayahku juga rela memberi nyawa, kakekku mengabdikan diri dan hormat kepada Sang Baginda..

Hari itu Sang Raja memanggilku, mengundangku ke Istananya, segera kudatang dengan buru-buru dan gelisah, adakah hal yang terjadi dengan suamiku di medan perang?

Hari itu bukan berita tentang suamiku yang kudapat, tetapi cerita gelap dari seorang istri yang menjadi tidak setia kepada suami.. ya hari itu  Sang Raja meminta-ku, mengajak-ku, membuai-ku…  membuatku berstatus “istri tidak setia”..

Bagai mimpi buruk di tengah hari.. najis.. najis.. najis.. itulah yang kurasakan.. kurendam tubuhku di kolam istana.. kuharap bisa membersihkan tubuhku, ku-sabun tubuhku puluhan kali, kuharap dapat menghilangkan kotoran-nya.. najis.. najis.. najis..  berkali-kali.. kumasukkan kepalaku ke air.. tetap terngiang najis.. najis.. najis..

Ku tak tahu.. hidup bagai di neraka, menunggu suami pulang di medan perang, semakin tersiksa ketika kutahu aku hamil, kembali kuingat peristiwa hari itu.. semakin tersiksa, ku tak kuat menanggungnya sendiri, kuputuskan untuk memberitahu kepada “Yang Berkuasa”, memberitahukan kehamilanku..

Hati merasa  gelisah, entah apa yang kukatakan bila suamiku pulang.. selalu dikejar rasa bersalah kepada suamiku.. istri apa aku ini, ketika suami mempertaruhkan nyawa untuk negara dibalas khianat seorang istri.. dalam kegelisahanku, tiba-tiba kudapat berita suamiku gugur di medan perang..  oooohhh suamiku untuk minta ampun-pun aku tak sempat.. ampuni.. ampuni istrimu yang tidak setia..

Beberapa waktu kemudian,  Baginda Raja mengambilku menjadi istrinya, menjadi istri raja adalah impianku ketika kecil, di masa kecil sering ku-melihat kakek di istana raja yang megah, mengantar ayah yang gagah perkasa  berangkat ke istana.. ya menjadi istri raja adalah impianku sejak kecil, namun bukan dengan cara seperti ini.. hamil

Usia kehamilan sudah semakin tua.. kudapati Sang Baginda Raja bersedih hati, bukan seperti biasa seorang bapa menunggu kelahiran puteranya. Sang Baginda seperti tampak berbeban sangat berat setelah bertemu dan berbicara dengan nabi Natan kemarin, namun ku tak tahu kenapa..

Sudah waktunya ku melahirkan.. anakku, yang kukandung dengan segala macam rasa, rasa sesal, rasa bersalah, rasa sedih, rasa kuatir..

Anak yang kutunggu-tunggu akhirnya lahir juga, bayi yang lemah hadir di dunia yang keras, bayi yang ternyata tidak bisa kutimang.. ya.. bayi yang kutunggu tak mau dipangku.. bayiku meninggal setelah menderita sakit 7 hari lamanya..  oooohhh betapa sedih hatiku.. Uria suamiku.. inikah hukuman istri yang tidak setia kepada suaminya?.. bila boleh meminta.. biarlah aku mati bersama bayiku.. biarlah aku mati..selesai sudah semua-nya..

Salah seorang istri Baginda datang menghiburku, mengingatkanku untuk tidak membuat kesalahan baru lagi, sudah menjadi istri Raja hendaklah berperilaku sebagai istri Raja, menyesali yang sudah itu baik namun lebih baik adalha menebusnya dengan berlaku lebih baik, begitu nasihatnya.. Kakak begitu ku memanggilnya, dia sungguh seorang istri yang amat bijak, kakak banyak bercerita kehidupan seorang istri dan bagaimana seharusnya menjadi penolong suami, kakak sungguh istri yang amat baik..

Sang Baginda juga datang menghiburku,  sangat baik kepadaku, tahu betapa hancurnya hatiku,  tahu betapa sedihnya diriku..  Baginda Raja bersamaku malam itu,  Baginda Raja menghampiriku..

Tuhan baik, sungguh amat baik.. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya,  yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN” begitu kata Baginda raja, ya.. Tuhan telah berbelas kasihan mengampuniku dengan memberi karunia seorang putera..

Ku ingat nasihat kakak, penyesalan saja tidak cukup, kuingin menjadi lebih baik, aku akan mengasihi, mendidik puteraku dengan baik, membuat bapa-nya bangga, juga aku akan merawat diriku supaya menjadi istri kekasih suami, dan menjadi istri yang baik,  menebus masa lalu..

Read Full Post »