Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

Ketika menemukan artikel mas Darman  disini ku merasa akrab dengan sosok ini 🙂

Copy paste, untuk my memory 😉

Wawancara- Paulus Mintarga

Background pendidikan bapak adalah sipil, dengan pengertian bapak belajar arsitektur secara otodidak. Kenyataan ini membuktikan kembali bahwa; arsitektur bisa dipelajari sendiri-otodidak. Bias sedikit berbagi cerita, seperti apa pendekatan-pendekatan yang bapak lakukan selama mempelajari arsitektur secara otodidak?

benar background pendidikan dari teknik sipil,sebenarnya belajar ‘arsitektur’ lebih karena ‘kebetulan’ lebih karena ‘minat’ yg spontan,terus terang sering timbul pertanyaan ‘refleksi’ apa benar sdh ‘berarsitektur’ ya? :)
pendekatannya,karena minat dan berkenalan dng beberapa arsitek,ya jadinya terlibat juga dalam obrolan dng temen2 arsitek tsb dan juga buka2 beberapa buku arsitektur,kadang sempat pula ikut temen2 arsitek ‘studi banding’ ke negara2 lain :)
mulanya idris samad yg meng ‘encourage’ untuk belajar arsitektur dan dalam perkembangannya mas mamo ‘kuat sekali’ dalam obrolan konsepnya,menurut saya dia ‘istimewa’,aset nasional dalam arsitektur yg ber ‘jati diri’ :)

Pada diskusi di kantor, bapak sempat menyinggung pentingnya pemahaman konstruksi-struktur-bagi arsitek pada permasalahan pembangunan ‘rumah murah’. bias sedikit dijelaskan kembali?

ya,saya teringat ketika pernah ngobrol dng mbak imel(imelda akmal),waktu itu dia cerita ttg seminar yg pembicaranya heinz frick,beliau mengatakan (kalau tdk salah dengar nih ),sebenarnya unt ‘mencetak arsitek’ ,seorang teknik sipil di beri kursus (3-4) bulan ttg arsitektur sdh cukup :) tentunya ini ‘kritikan’ beliau(sayang sdh wafat,dan sepantasnya dapat gelar pahlawan indonesia),beliau mengkritisi kurangnya pemahaman ‘struktur’ di kalangan beberapa arsitek dewasa ini,
dari pengalaman,memang pengetahuan ttg struktur(minimal basic structure) akan sangat membantu dalam perencanaan yg ‘efisien’,seringkali bahkan dapat ‘kejutan2 arsitektur’ di dalam merencanakan struktur :) kalau struktur kita ‘efisien dan efektif’ maka dng sendirinya akan optimal yg ikutannya adalah efisien juga biayanya :)

-rumah turi solo-

Rumah turi adalah salah satu karya bapak yang didesain dengan konsep ‘sustainable’, baik penerapannya pada proses pembangunan hingga pada pengoprasian hotel. Bisa sedikit berbagi mengenai sudut pandang bapak terhadap Sustainable tersebut?

sekitar 3 th lalu pernah mendapat draft ttg sustainable dari salah satu ngo amerika dalam program pembinaan ukm di jawa tengah,dari draft tersebut,dapat disimpulkan al:sustainable itu efisien,efektif dan optimal :) serta berkelanjutan tentunya,
rumah turi dirancang dng kepedulian yg sangat tinggi dng pengertian tersebut,karena ini sdh menyangkut ‘bisnis’,maka kita harus berdaya upaya sedemikian rupa untuk meg efisienkan biaya,efektif dan optimal hasilnya serta seminim mungkin operasional cost nya,jadi sustainable sampai ke sisi ‘bisnis’nya,dia harus lebih tinggi daya ‘survival’ nya,syukurlah dng penerapan pemikiran tersebut,rumah turi bisa eksis dan berkembang :)
dan jadilah berkelanjutan secara ‘utuh dan lengkap’ :)
mungkin estetika bisa juga diartikan sbg kreatifitas yg berkelanjutan dan bisa berkelanjutan,dng sewajarnya :)

-salah satu rumah karya pak paulus di kota solo-

Dari beberapa karya bapak yang pernah saya kunjungi, saya melihat adanya semangat untuk ‘eksplorasi material’ dalam tiap project yang bapak kerjakan. Terkait hal tersebut, bias sedikit dijelaskan, seberapah pentingkah ‘eksplorasi material’ dalam project bapak?

sebenarnya eksplorasi material itu lebih dikarenakan lokalitas,melihat kemungkinan dan potensi apa yg ada di sekitar dan apa yg bisa di optimalkan,diperlukan ‘kesadaran yg jernih’ tentunya :) supaya benar2 optimal :) dan selaras,
perlu hati2 jangan terjebak ke ‘ego’ ,hasilnya hanya akan di ‘permukaan dan penampakan’ aja :) ,ujung2 nya hasilnya akan berlawanan dng semangat efisien,efektif dan optimal :)
tapi kalau kita ‘jujur dan jernih’ dalam eksplorasi tsb,maka seringkali kita dapat ‘bonus tambahan tak terduga’ :) sering dapat bonus estitika ‘kejutan dan original’ :)

Tak jarang profesi sebagai kontraktor sering kali dikaitkan dengan issue; BERORIENTASI PADA PROYEK UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN SEBESAR-BESARNYA. Bagaimana tanggapan bapak sebagai seorang kontraktor terhadap issue tersebut?

sebenarnya kalau ingin mendapatkan keuntungan sebesar2nya bisa dari berbagai bidang usaha/kerja,sepertinya ini lebih ke personalnya,pemahaman jalan hidup(way of life),tergantung bagaimana setiap pribadi akan ‘me makna i’ dalam jalan hidupnya :)

-project gudang dan studio baru pak paulus di kota solo-

Pertanyaan terakhir; apa yang akan bapak lakukan jika suatu saat bapak diangkat menjadi walikota solo menggantikan bapak joko widodo?

mimpinya saya belum sampai kesana euy :)

Advertisements

Read Full Post »

Sakit itu Subyektif

16 Agustus, di SGH Singapore, ini kedua kalinya saya memasuki ruangan putih berlampu sangat terang, kluthak kluthik bunyi seperti sendok, garpu dan pisau berdetingan.

“Repeat order” kata-ku guyonan bila di tanya ngapain ke Singapore 🙂

Ya, 16 Agustus empat tahun yang lalu saya mengalami hal yang sama, operasi kandungan untuk mengambil Myom. Operasi kali ini adalah operasi keempat yang kualami, karena yang dua kali pertama dilakukan di Pura Ibunda Jogja. Penyakit langganan rupanya, dan makin lama makin complicated, maka berharap untuk yang kali ini adalah orderan terakhir. Siang/sore ku tak tahu tepatnya, yeah seperti biasa di rumah sakit, waktu selalu sama ^.^

Yang kuingat hanya, ada banyak suster yang datang silih berganti hanya untuk mengecek tekanan darah dan temperatur tubuh. Mengganggu ngantuk-ku.

Setelah mata dan telinga bisa diajak kompromi, mulai sadar. Ada hal-hal yang ditanyakan secara ber-ulang-ulang.

“Are yoiu in pain? what level? ,3,4,5..??” pertanyaan aneh, tapi sering diulang

“Pain”, sakit.. selama ini kita banyak memakai kata-kata ini dalam pembicaraan sehari-hari

“perutku sakit”

“sakit hati-ku”

Dari pertanyaan suster-suster dan membaca brosur yang tergeletak di samping kasur, ku mulai mengerti apa yang dimaksud “pain”

“pain” diartikan sakit(nyeri)  adalah sebuah rasa, pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan tubuh, entah karena luka atau karena virus Pain atau nyeri atau sakit, selalu nampak sebagai pengalaman subyektif.  Ada orang yang bilang sakit, padahal tidak ada jaringan tubuh yang rusak.

Jadi teringat, seorang sahabat, bila ku ajak bezuk ke orang yang sakit, selalu aja “ketularan”. Bila menjenguk orang sakit perut, sahabat ini juga merasa perutnya mengalami gejala yang sama dengan si sakit. Aneh tapi nyata. Maka-nya bila aku ajak tengok orang sakit parah seperti kanker/tumor selalu nggak mau. lha piye, bila ada yg sakit tumor payudara, besoknya juga akan telpon. “Eh punya-ku yang kok ya rasa-rasanya agak keras yg kanan ya?”

Ada juga seorang teman yang lain, cowok loh ini, juga sama begitu.. Ketika menengok teman sakit kanker usus, yang bisa diobati di Malay tanpa kemo, katanya. eh jadi mules-mules diare. Langsung minta ke Malay tuk check up.

Are you in pain? what level??

Pertanyaan mencoba mengarahkan ke hal-hal yang obyektif. Mengarahkan pasien ke lokasi yang sakit, kalau yang di bedah perutnya, ya rasakan di perut. Level berapa sakitnya?? 0 adalah tidak sakit.. 10 adalah pualing suakit..

“Bila sakit tak tertahankan bisa tekan tombol ini”, katanya sambil menjelaskan bahwa bila tombol ini di tekan, maka otomatis akan ada injeksi penahan rasa sakit, jenis morphin, tetapi jangan takut kecanduan, kadarnya sudah diatur sedemikian rupa hingga “pas’

Menarik sekali, bila kita bisa objective, dan sadar tentang apa yg terjadi. Luka jaringan memang menimbulkan rasa sakit, namun bisa di manage, sesuai kemampuan kita menahan-nya. Hari ketiga, waktunya ganti plaster. Masih mengalami prosedur dan pertanyaan yg sama.

“Are you ini pain? what level?” “level one plus” Ku jawab dengan gagah perkasa ha..ha.. “Good, saatnya ganti plaster dan bersihkan jahitan” kata dokter Beberapa saat ketika suster yang bertugas datang membawa peralatan. Plaster lama dibuka. Iseng-iseng, aku pengin lihat jahitannya. Kuangsur hape-ku. “Tolong dibuat photo dong” kataku minta tolong suster tuk abadikan my jahitan.

.

Waduh, tiba-tiba.. sakit lagi, naik ke level 3, padahal belum di-apa-apa-in 😉

Melihat banyak-nya staples di perut, jadi sakitnya naik tingkat.

Ha..ha.. Bener juga kalau “sakit” itu subyektif, sangat subyektif ha..ha..

Jadi teringat kata-kata, yang bisa menyakiti diri ini adalah diri-ku sendiri, bukan orang lain. Bila kita mengijinkan disakiti maka akan bener-bener tersakiti, sooo kebahagiaan dan kesakitan kita tergantung pada diri sendiri, bukan orang lain.. Walah malah jadi Subyektif  lagi 🙂

Karena repeat order, semua berjalan seperti sudah biasa. Saat di dorong masuk kamar operasi diantar Clair dan mas Paul my bojo, masih senyam senyum kepada mereka.

Ketika masuk ruang demi ruang, di beri pertanyaan yang sama di setiap ruangan, sangat prosedural. Hingga tiba saat-nya menunggu sendirian.

Saat hening.

Kuperiksa hati dan jiwa-ku, tak ada rasa apapun, biasa saja.. Kukatakan kepada Allah-ku terima kasih, untuk menjagai-ku dari kekuatiran. Terima kasih Tuhan untuk kasihMU di masa-masa lalu. Di saat ini ku ingin bersamaMU

Bersenandung.

Read Full Post »